pemudakatolik.org


   May 03

Lilin Kecil

Ada sebuah kisah tentang sebatang lilin kecil yang dibawa oleh seorang pria menaiki tangga yang cukup tinggi, menuju ke sebuah menara mercusuar. Dalam perjalan mereka terjadilah dialog antara si lilin kecil dengan petugas mercusuar itu.
Si lilin kecil itu bertanya ,”Kita hendak kemana?”. “Kita akan naik lebih tinggi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal besar yang berada di tengah lautan luas, supaya mereka tidak tersesat dan salah arah.”jawab petugas mercusuar itu. “Apaaaa…..apa tidak salah???. Mana mungkin aku yang kecil ini bisa memberi petunjuk kepada kapal-kapal besar. Apalagi dengan cahayaku yang hanyak kerlap-kerlip ini pasti tidak dapat mereka lihat dari kejauhan,’ sahut si lilin kecil. “Itu bukan urusanmu wahai lilin kecil. Jika nyalamu memang kecil biarlah. Yang terpenting harus engkau lakukan adalah bagaimana caranya agar engkau tetap menyala, dan urusan selanjutnya adalah menjadi tugas dan tanggung jawabku,” jawab petugas mercusuar.
Dan ketika sampai di menara mercusuar, petugas mercusuar itu meletakkan lilin kecil yang dibawanya serta memasang sebuah alat berupa cermin reflector, yang berfungsi untuk memantulkan cahaya lilin sehingga bisa terlihat sampai di kejauhan.
Pada akhirnya si lilin kecil tersebut dapat memahami akan tugasnya,”yaaaa…tugasku hanyalah menjaga agar aku tetap menyala….dan menyala sampai habis…ternyata di tangan petugas mercusuar itu meskipun berupa sebatang lilin kecil ternyata aku dapat bermanfaat bagi orang lain….”
Hidup kita bagaikan sebatang lilin kecil. Tanpa Tuhan, hidup kita tidak akan berarti. Namun, bila kita rela digenggam dan dipakai oleh Tuhan, maka hidup kita akan sangat berarti dan berguna bagi sesama. Semua kemampuan dan keahlian kita hanya akan tetap seperti nyala lilin kecil jika kita tidak menaruh hidup kita dalam tangan Allah. Hanya Allah yang sanggup menjadikan yang kecil menjadi besar, asalkan kita mau dipakai menjadi alatNya.

Eddy Cristanto
(disadur dari berbagai sumber)


   May 03

100 % Katolik dan 100 % Indonesia

Suatu ketika saya sempat bepergian ke kota Semarang, dalam rangka mengunjungi seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kota ini begitu terkenal dengan kuliner khas yang tidak dijumpai di kota lain, antara lain : lumpia, wingko babad, bandeng presto, dll. Bagi mereka yang hobby kuliner pasti pernah mencicipinya.

Tidak jauh dari pusat kuliner terebut ada sepenggal jalan dengan menggunakan nama yang tidak asing lagi bagi umat Katolik di Indonesia. Di papan jalan tersebut tertulis : jalan Mgr. Sugiyopranoto. Sejenak terbesit kebanggaan dalam hati saya. “ Sudah layak dan sepantasnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah jalan,” pikir saya. Yaaa…sebagai umat Katolik siapa yang tidak kenal nama Mgr. Sugiyopranoto, atau paling tidak pasti pernah mendengarnya.

Mgr. Albertus Sugiyopranoto, SY, demikian nama lengkapnya. Beliau adalah putra Indonesia pertama yang diangkat menjadi seorang Uskup Agung oleh Gereja Katolik. Lahir di Solo tanggal 25 November 1890, Sugiyopranoto tumbuh dan dibesarkan dalam budaya Jawa yang kental. Sebagai seorang anak yang cerdas, beliau mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang terbaik pada waktu itu. Bahkan beliau juga pernah menjadi murid Romo Van Lith, SY. Mungkin karena banyak mendapat didikan dari pastor pastor Jesuit, maka perlahan-lahan benih panggilan untuk menjadi Imam pun tumbuh di hatinya.

Jasa Mgr. Sugiyopranoto yang terpenting bagi perkembangan Gereja Katolik di Indonesia adalah mewartakan iman Katolik yang disesuaikan dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Hal itu dilakukan antara lain dengan cara memasukkan budaya Indonesia ke dalam ritual gereja Katolik atau yang dinamakan dengan inkulturasi budaya. Sekarang bisa kita lihat dalam gereja adanya beragam alat musik tradisional Indonesia digunakan untuk mengiringi misa kudus. Juga lagu-lagu misa banyak yang menggunakan gaya lagu khas daerah Indonesia.

Ucapan dan nasehat Mgr. Sugiyopranoto yang sangat terkenal sampai saat ini adalah : “Menjadi 100 % Katolik dan juga 100 % Indonesia,”. Sungguh hal itu menjadi ajaran yang luhur, karena memang harus disadari bahwa gereja Katolik Indonesia adalah juga bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk.

Mgr. Sugiyopranoto wafat pada tanggal 10 Juli 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal. Atas jasa dan perjuangan beliau semasa hidup, maka pemerintah Indonesia pada tanggal 26 Maret 1963 menetapkan Mgr. Sugiyopranoto, SY sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan, berdasarkan Surat Keppres RI no. 152 tahun 1963.

Pro Ecclesia et Patria…..

Eddy Cristanto

(disadur dari berbagai sumber)


   Apr 19

Santo Pelindung Pemuda Katolik (2)

sumber :http://ariawijaya.com/2008/11/26/st-yohanes-berchmans-26-november/

St. Yohanes Berchmans (26 November)

Oleh Victor | Nov. 26, 2008 | 11. Santo Santa bulan November, The Saints

Orang kudus dari Belgia ini pernah mengatakan, “Jika aku tidak menjadi kudus ketika aku masih muda, maka aku tidak akan pernah menjadi kudus.” Sesungguhnya, Yohanes meninggal pada usia muda, yaitu duapuluh dua tahun dan, tanpa perlu diragukan lagi, ia telah berhasil mencapai harapannya untuk menjadi kudus.

Yohanes dilahirkan pada tahun 1599. Sebagai seorang anak, ia amat dekat dengan ibunya yang sakit. Namun demikian, ia suka juga bergabung dengan teman-teman sebayanya untuk memainkan kisah-kisah yang diambil dari Kitab Suci. Ia terutama amat pintar memainkan adegan Daniel membela Susana yang tidak berdosa. Ketika usianya tigabelas tahun, Yohanes ingin bersekolah untuk menjadi imam. Tetapi, ayahnya -seorang tukang sepatu-, membutuhkan bantuannya untuk ikut menunjang keluarga. Pada akhirnya, Bapak Berchmans memutuskan untuk memperbolehkan Yohanes menjadi pesuruh di pastoran. Dari sana ia dapat langsung pergi mengikuti pelajaran di seminari.

Tiga tahun kemudian, Yohanes Berchmans bergabung dengan Serikat Yesus. Ia berdoa, belajar dengan tekun dan dengan bersemangat memainkan peran-peran dalam drama religius. Ia mempunyai semboyan: “Berilah perhatian besar pada hal-hal kecil,” dan semboyannya itu ia pegang teguh. Semasa hidupnya, St. Yohanes Berchmans tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan besar yang mengagumkan. Tetapi, ia melakukan semua pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik, mulai dari melayani makan hingga menyalin catatan pelajarannya.

Ketika ia jatuh sakit, tidak ada dokter yang dapat menemukan penyakit yang dideritanya. Yohanes tahu bahwa ia akan segera meninggal. Tetapi, ia tetap riang gembira seperti sediakala. Ketika dokter memerintahkan agar keningnya dikompres dengan anggur, Yohanes berkelakar: “Wah, untung saja penyakit yang begitu mahal ini tidak akan berlangsung lama.”

Yohanes Berchmans wafat pada tahun 1621. Mukjizat-mukjizat terjadi pada saat pemakamannya. Segera saja orang mulai menyebutnya santo. (yesaya.indocell.net)


   Apr 19

Santo Pelindung Pemuda Katolik (1)

sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender/26Nov.html
Santo Yohanes Berchmans, Pengaku Iman

yohanes berchman

Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Ayahnya yang tukang kayu itu bercita-cita agar Berchmans kelak menjadi orang yang berpangkat tinggi dan masyhur namanya. Dalam sikapnya yang tenang laksana air jernih tak beriak, Berchmans bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia mendapat pelajaran bahasa Latin dari Peter Emerich. Imam ini sering mengajaknya ke biara dan pastoran. Pengalaman inilah yang mempengaruhi cita-citanya di kemudian hari yaitu menjadi seorang imam. Tetapi karena perusahaan ayahnya, mengalami kemunduran hebat dan ibunya sakit keras, ia dipanggil pulang ke rumah agar bisa membantu ayahnya dalam memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Ayahnya memutuskan untuk menghentikan studinya.

Mendengar keputusan ayahnya, ia diam tertegun sambil merenungkan nasibnya di kemudian hari. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya atas tanggungan pribadi dan berjanji untuk makan roti kering saja dan hidup sederhana, asal cita-citanya tercapai. Ayahnya mengalah. Sambil mengikuti pelajaran di sebuah kolese umum, ia bekerja sebagai pelayan di gereja Katedral untuk memperoleh nafkahnya. Berkat kecerdasan serta kemauannya yang keras, ia selalu lulus dalam ujian dengan nilai yang gemilang. Ia bahkan selalu menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat baik dan sayang padanya karena tabiatnya yang tenang dan periang. Kegemarannya adalah menjadi pelakon dalam setiap drama yang di pertunjukkan sekolah.

Ketika menginjak tahun terakhir studinya yaitu tahun retorika, ia pindah ke Kolese Yesuit di Malines pada tahun 1615. Hal yang menarik dia ke sana ialah semangat perjuangan dan kemartiran para misionaris Yesuit di Inggris. Tahun 1616, setelah mengalahkan ketegaran hati ayahnya, ia masuk novisiat Yesuit dan setahun kemudian ia dikirim ke Roma untuk melanjutkan studinya di sana. Dari sana ia mengirim surat kepada orang-tuanya: “Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku . . . saya ucapkan ’selamat datang dan selamat tinggal’ kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku puteramu, kepada Tuhan. Dia yang telah memberikan aku kepada kalian.”

Sebagai novis, Berchmans sangat mengagumkan. Hidup asketik dan tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam, sempurna, seperti tampak di dalam kalimat: “Menabung banyak harta dalam bejana yang kecil.” Sekali peristiwa ia membaca riwayat hidup Santo Aloysius. Pedoman yang diambilnya dari Aloysius ialah: “Jika saya tidak jadi orang suci di masa mudaku, maka tak pernah saya akan menjadi demikian.” Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga, yaitu tanggal15 Agustus 1621, ia meninggal dunia dalam usia 22 tahun.

Meskipun dia meninggal dalam usia yang begitu muda, namun ia dinyatakan ‘kudus’ oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas hariannya dengan sangat baik. Ia berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas yang sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan. Berchmans menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.


   Mar 12

Hirarki Organisasi Pemuda Katolik

hirarki pemuda katolik


   Feb 22

Lambang Organisasi Pemuda Katolik

Organisasi Pemuda Katolik

Organisasi Pemuda Katolik

Makna Lambang Organisasi :

Bentuk Lambang :

Perisai Segi Lima melambangkan tekad untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berasarkan Pancasila

Pita Merah Putih melambangkan ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia

Salib melambangkan kesadaran aktivitas organisasi sebagai bagian Penebusan Dunia dan kerelaan berkorban atas dasar Iman Kristiani

Warna-warna yang digunakan :

Merah melambangkan semangat dan keberanian berjuang.

Putih melambangkan kesucian hati yang melandasi perjuangan.

Kuning melambangkan kekatolikan (identitas ” Gereja Katolik”)

Hijau melambangkan jiwa dan semangat muda.

// sumber Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga  Pemuda Katolik


   Feb 19

Tri Prasetya Pemuda Katolik

1. Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,
pendukung hari-hari depan Gereja dan Negara,
berjanji: SENANTIASA SETIA PADA PIMPINAN GEREJA DAN NEGARA
2. Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,
pendukung hari-hari depan Gereja dan Negara,
berjanji: TETAP BERJUANG DEMI KEPENTINGAN GEREJA DAN NEGARA
3. Kami, PEMUDA KATOLIK Indonesia,
pendukung hari-hari depan Gereja dan Negara,
berjanji: SELALU MENGUTAMAKAN PERSATUAN, KEKELUARGAAN DAN TOLERANSI


   Feb 19

Pro Ecclesia Et Patria

Pro Ecclesia Et Patria merupakan semboyan Pemuda Katolik yang jika diterjemahkan dalam bahasa awam akan menjadi “Untuk gereja dan tanah air”. Semboyan ini membawa arti bahwa Pemuda Katolik akan menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan gereja dan tanah air. Hal ini juga membuktikan bahwa Pemuda Katolik adalah 100 % Katolik dan 100% Indonesia.